Rektor Institut Agama Kristen Renatus Mengikuti Seminar Bertemakan Gereja yang Bersatu, Terpimpin dan Fokus.

Pematang Siantar, 21 Februari 2026. Rektor Institut Agama Kristen Renatus, Pdt. Dr. Sahat Tua, SE., M.Th, mengikuti kegiatan seminar para Hamba Tuhan Gereja Pentakosta Indonesia Wilayah Siantar Simalungun dengan tema“Gereja yang Bersatu, Terpimpin, dan Fokus” (Yehezkiel 1).

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum Gereja Pentakosta Indonesia, Rev. DR. M.H. Siburian, M.Min. sebagai pembicara, didampingi Sekretaris GPI, Pdt. O.R. Siburian, S.Th; Wakil Ketua GPI, Pdt. P. Silaban, SE, M.Min, M.Th; Wakil Sekretaris I GPI, Pdt. Dr. Ir. H.D. Manurung, MBA., M.SI; Wakil Sekretaris II, Pdt. Dr. A. Tarigan, M.Th; Bendahara I GPI, Pdt. J. Silalahi, BA, M.Th; dan didampingi oleh ketua pelaksana kegiatan seminar, Pdt. Dr. Maslan Lumban Raja, M.Th beserta jajaran panitia pelaksana. Seminar “Gereja yang bersatu, terpimpin, dan fokus” hanya mungkin jika berpusat pada otoritas Allah dan bergerak di bawah Roh-Nya.

Kegiatan ini menjadi program Pusat Gereja Pentakosta Indonesia yang dilaksanakan di setiap wilayah provinsi, kabupaten, dan kota. Adapun materi yang disampaikan kepada seluruh peserta seminar yang dihadiri oleh seluruh Hamba Tuhan, mulai dari Pendeta, Guru Injil, Sintua, dan Pelayan yang ada di Gereja Pentakosta Indonesia Siantar Simalungun.

Prinsip Kesatuan dalam Struktur dan Pelayanan Gereja

Dalam seminar yang dilakukan, Pendeta Umum Rev. Dr. M.H. Siburian, M.Min. mengatakan, “Harus ada kesatuan dalam struktur yang harmonis.” Layaknya seperti penglihatan Nabi Yehezkiel, kita menyaksikan sebuah gambaran yang luar biasa tentang makhluk-makhluk hidup yang bergerak dalam kesatuan sempurna. Dikatakan bahwa mereka tidak saling bertabrakan dan tidak berputar sendiri, melainkan bergerak lurus ke depan secara serempak. Ini adalah prinsip ilahi yang kuat (unity without uniformity), kesatuan tanpa keseragaman. Meskipun memiliki empat wajah yang berbeda, mereka bergerak dalam satu arah yang sama.

Prinsip ini memiliki aplikasi yang sangat relevan bagi para hamba Tuhan di GPI Wilayah Siantar Simalungun. Pesannya jelas meskipun kita memiliki karunia yang berbeda, melayani di daerah yang tidak sama, dan menerapkan gaya pelayanan yang beragam, arah kita haruslah satu.

Demikian pula dalam dinamika antargenerasi. Generasi senior membawa kekuatan dalam pengalaman, ketekunan, dan fondasi doktrinal yang kokoh. Di sisi lain, generasi muda menyumbangkan energi, inovasi, dan kemampuan beradaptasi dengan zaman. Jika masing-masing berjalan sendiri, yang terjadi adalah fragmentasi hati dan pelemahan pelayanan. Namun, ketika keduanya tunduk pada pimpinan Roh, yang lahir adalah sinkronisasi sebuah gerakan ilahi yang indah.

Sinkronisasi Pelayanan dan Kepatuhan pada Roh

Kunci dari semua ini terdapat dalam ayat utama pada Yehezkiel 1 ayat 12 yang menyatakan bahwa mereka berjalan lurus ke depan, dan ke mana pun roh itu hendak pergi, ke situ pulalah mereka pergi. Ini menegaskan bahwa kesatuan sejati tidak lahir dari kesamaan budaya, usia, atau gaya, tetapi dari kepatuhan mutlak kepada pimpinan Roh Kudus.

Kepemimpinan yang digerakkan oleh Roh sebagaimana tertulis dalam Yehezkiel 1 ayat 20 menunjukkan bahwa ke mana pun Roh itu hendak pergi, ke situ pula mereka pergi. Ini membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam bahwa penggerak utama dari seluruh sistem yang harmonis ini bukanlah kecerdasan atau kekuatan manusia, melainkan Roh Kudus itu sendiri. Roh tidak pernah menghasilkan kekacauan, sebaliknya Ia menciptakan sinkronisasi yang sempurna.

Penting untuk dipahami bahwa kepemimpinan yang digerakkan oleh Roh bukanlah spontanitas liar yang tanpa arah. Sebaliknya, ia adalah sebuah gerakan yang teratur, selaras, dan penuh dengan kesadaran ilahi. Ini menunjukkan bahwa struktur organisasi atau pelayanan tidaklah mati dan kaku. Justru, struktur itu menjadi hidup dan efektif ketika digerakkan oleh Roh. Tidak ada satu pun makhluk dalam penglihatan itu yang bergerak atas inisiatifnya sendiri. Ini menjadi koreksi tajam bagi setiap kecenderungan individualisme rohani atau pelayanan yang berjalan sendiri-sendiri, terlepas dari tubuh Kristus yang lebih besar. Gerakan kita hanya bermakna ketika selaras dengan kehendak Sang Penggerak Utama, yaitu Roh Kudus.

Fokus pada Otoritas dan Kemuliaan

Fokus, Identitas, dan Kemuliaan Allah di Tengah Zaman (Yehezkiel Pasal 1) mencakup juga Fokus Tanpa Distraksi (Yehezkiel 1:15–21). Penglihatan Yehezkiel berlanjut dengan gambaran roda-roda yang penuh mata yang bergerak lurus ke depan tanpa pernah berbalik. Makna teologisnya mendalam sebagai gambaran tentang kesadaran penuh serta gerakan yang digerakkan oleh visi, bukan oleh reaksi impulsif terhadap keadaan sekitar. Roda-roda itu tidak menoleh ke kanan atau ke kiri karena mereka fokus pada tujuan di depan.

Pada akhirnya, seluruh pasal satu kitab Yehezkiel adalah sebuah pewahyuan agung tentang otoritas dan kemuliaan Allah. Di tengah krisis dan pembuangan, Allah tidak memberikan strategi organisasi atau program baru, namun Ia justru memperlihatkan siapa diri-Nya. Inilah fondasi dari segalanya. Semua gerakan yang teratur itu bergerak dari Dia, terarah kepada Dia, dan tunduk sepenuhnya pada pusat itu. Struktur surgawi yang harmonis itu bisa terjadi karena beberapa elemen kunci seperti adanya pusat sebagai kemuliaan Allah yang bertakhta, kepemimpinan sebagai gerakan Roh Kudus, kesadaran setiap bagian akan fungsinya masing-masing, serta sinkronisasi untuk bergerak dalam kesatuan yang sempurna.

Oleh karena itu, mari kita merenungkan hal ini dengan serius. Apabila fokus pelayanan kita adalah preferensi pribadi, kita akan mudah goyah. Ketika fokus pelayanan kita adalah posisi atau jabatan, maka kita akan bersaing. Namun, jika fokus pelayanan kita adalah masa lalu, kita akan menjadi stagnan. Tetapi, jika fokus pelayanan kita tertuju pada kemuliaan dan otoritas Allah, kita pasti akan bergerak maju bersama dalam kesatuan. Gereja yang kuat bukanlah karena kehebatan strukturnya semata, tetapi karena struktur itu hidup, tunduk pada pimpinan Roh, dan terarah sepenuhnya pada kemuliaan Allah.

Dengan demikian, visi ini dapat kita rumuskan bagi Gereja Pentakosta di Indonesia Wilayah Simalungun untuk bergerak maju secara kolektif dalam harmoni. Mari merangkul fungsi-fungsi serta struktur gerejawinya yang khas sehingga bertumbuh menjadi gereja yang tangguh dan fokus, yang berpusat teguh pada panggilan utamanya yaitu takhta Allah.

Tinjauan Rektor terhadap Peran Gereja di Masa Kini

Pdt. Dr. Sahat Tua SE., M.Th Selaku Rektor Insitut Agama Kristen Renatus ( IAK Renatus) menilai materi seminar menjadi sebuah kritik tajam sekaligus nasihat bagi gereja dalam menghadapi tantangan zaman modern dan pasca-modern.

Gereja dipanggil untuk Tidak mudah teralihkan oleh tren dunia yang silih berganti, Tidak reaktif terhadap setiap isu yang muncul sehingga kehilangan arah utama, Tidak terpecah-belah oleh agenda-agenda pribadi yang mengaburkan visi bersama.

Seperti roda yang penuh mata itu, gereja harus bergerak dengan kesadaran ilahi dan fokus yang tidak tergoyahkan pada panggilan surgawi.

Penting untuk kita ingat di mana Yehezkiel menerima visi agung ini, yakni bukan di Yerusalem yang megah, melainkan di pembuangan, di tepi Sungai Kebar di tanah Babel. Pesan ini sangat kuat bagi gereja masa kini bahwa identitas dan kekuatan gereja tidak boleh bergantung pada kejayaan masa lalu, kemegahan gedung ibadah, ataupun nama besar yang pernah maupun sedang disandang

Kemuliaan Allah tidak terikat pada bangunan fisik atau sejarah karena Ia dapat menyatakan diri-Nya dengan dahsyat bahkan di tempat yang paling sederhana dan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun. Identitas sejati kita ditemukan dalam hadirat-Nya, di mana pun kita berada.